Minggu, 26 Februari 2012

Brake (2012) : Claustrophobia Is The Best


Title: Brake
Year : 2012
Genre: Thriller/Crime
Duration: 1 hr 32 mins.
Directed by: Gabe Torres
Written by: Timothy Mannion
Starring:  Stephen Dorff, Tom Berenger, Chyler Leigh, JR. Bourne
Thrill Rate : **** (4/5)

Brake (2012) : Claustrophobia Is The Best


Masih ingat dengan sebuah thriller berjudul Buried karya Rodrigo Cortes tahun 2010 lalu ? Ya, bintangnya adalah Ryan Reynolds yang dikubur hidup-hidup di tengah gurun pasir Irak. Idenya cukup original dan Cortes sangat jago mengolah claustrophobia menjadi suatu hal yang tak membosankan penonton Buried selama hampir 1 jam 30 menit. Nampaknya, Gabe Torres juga tak mau ketinggalan ingin mengikuti jejak Cortes dalam mengangkat ide yang sama dengan membuat Brake. Masih tetap menampilkan peti sebagai pemicu claustrophobia, Torres mencoba untuk bertutur dengan cara yang lain. Banyak pendapat yang mengatakan bahwa Brake adalah rip-off dari Buried, namun dengan sentuhan yang berbeda. Tapi bagi saya, mau rip-off atau nggak, selama saya menikmati filmnya, saya nggak terlalu peduli dengan hal itu. Ide boleh saja sama, tapi eksekusinya bisa saja berbeda. Dan hal itulah yang terjadi pada Brake karya Gabe Torres ini.

 Trapped in a box with some gadget

Ceritanya berkisar pada seorang agen Secret Service bernama Jeremy Reins (Stephen Dorff) yang tiba-tiba terjebak di sebuah peti transparan. Tapi nasib Jeremy masih lebih baik dibanding Paul Conroy di Buried karena petinya nggak dikubur dalam tanah, tapi diletakkan di bagasi mobil. Petinya juga dilengkapi dengan sebuah radio CB, sebuah speaker yang disambungkan dengan handphone serta sebuah jam digital yang selalu menghitung mundur. Seandainya posisinya dibalik, tentu Paul Conroy akan lebih mudah meloloskan diri dari peti tersebut dibanding dengan Jeremy karena peralatan yang sengaja diletakkan di petinya Paul tak secanggih di petinya Jeremy (hey…tunggu, ini filmnya beda jaman, jangan disamain dong). Ternyata Jeremy bukan satu-satunya yang kejebak di peti tersebut. Di tempat lain, ada seorang pria yang bekerja di Gedung Putih bernama Henry (JR. Bourne) juga mengalami nasib yang sama seperti Jeremy. Kedua orang ini akhirnya saling berkomunikasi lewat radio CB dan berusaha menyusun rencana untuk dapat lolos dari peti tersebut. Jeremy maupun Henry ternyata adalah tawanan teroris yang menginginkan lokasi The Roulette (bunker tempat presiden Amerika Serikat berlindung jika negara dalam keadaan genting). Karena telah terikat oleh sumpah sebagai Secret Service yang akan selalu melindungi sang presiden dalam keadaan apapun, Jeremy betul-betul diuji ketahanan mental dan fisiknya agar tak sampai membocorkan rahasia negara tentang lokasi The Roulette pada teroris.

Hitung mundur..... 

Alur cerita Brake secara umum tidak terlampau istimewa, karena bagi yang telah menonton Buried, apa yang telah dialami Jeremy masih kalah seram dengan yang dialami Paul di Buried. Namun Brake tetap adalah sesuatu yang berbeda dari Buried. Meski sama-sama menyajikan intense thriller dari awal hingga akhir film, tapi Torres cukup “gila” dalam bermain-main dengan twist ganda saat ending. Saya pun lumayan kaget dengan ending film ini, karena hampir tak tertebak sama sekali. Karena Torres mungkin masih merasa ending filmnya masih terlalu biasa, maka ditambahkannya final twist di detik-detik terakhir film ini mau bubar. Sebagai penonton, saya cuma bisa tersenyum dan puas dengan hasil kerja Torres dan Mannion yang telah berhasil mengecoh pikiran saya hingga film selesai. Kekuatan film ini justru terletak pada ending yang hampir tak terduga tersebut, karena sepanjang film, ceritanya mengalir begitu saja dengan lancar dan biasa, walau ditambah dengan sedikit kejutan-kejutan ringan di dalamnya. Torres juga sama suksesnya seperti Cortes dalam menyajikan thriller “ruang sempit” sebagai tontonan yang mampu membuat penontonnya terus terjaga dan jauh dari rasa bosan selama film diputar. Skenario yang ditulis oleh Timothy Mannion nampak matang dan berhasil dieksekusi dengan sangat baik oleh Gabe Torres.

 Postcard from terrorist...

Sayangnya, saya justru lebih menyukai akting Ryan Reynolds di Buried ketimbang Stephen Dorff di film ini. Reynolds nampak sangat panik dan betul-betul frustasi serta nyaris kehilangan akal dalam kondisi dikubur hidup-hidup seperti itu. Tapi Dorff, nampak tenang-tenang saja, seakan masih banyak waktu untuk berpikir bagaimana cara meloloskan diri dari keadaan tersebut. Teknik pengambilan gambar dan editing untuk Brake juga boleh diacungi jempol karena sangat detil merekam segala sesuatu yang terjadi hingga terkadang membuat penonton jadi ikut terhanyut dengan suasana tegang selama film ini diputar. Secara umum, saya senang dihibur dengan Brake dengan double twist-nya saat ending dan sepertinya film ini akan masuk dalam daftar koleksi film thriller saya. Tabik untuk Gabe Torres dan seluruh kru yang terlibat di Brake.  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar